Potensi Kota Pekalongan

Potensi Kota Pekalongan Pemkab Pekalongan, Segudang Potensi Kurang Promosi PRODUK- unggulan dari Kabupaten Pekalongan selama ini yang menonjol dan terkenal sampai mancanegara masih terbatas industri batik sutra yang digarap secara tradisional. Padahal jika melihat potensi daerah yang dikenal dengan sebutan ''Kota Santri'' itu sebetulnya tidak terbatas hanya batik saja. Ada segudang potensi yang belum mendapat kesempatan merebut pasar baik lokal maupun nasional. Ini terjadi lantaran Pemkab masih dalam batas miskin promosi dalam memasarkan produk-produk unggulannya. Kendati obsesi Bupati Drs A Antono sejak dilantik dua tahun lalu ingin mendobrak laju pertumbuhan perekonomian daerah. Meski badai resesi terus menerpa perjalanan kariernya memimpin daerah yang memiliki aneka ragam potensi, mulai dari laut hingga pegunungan. Seperti potensi Kecamatan Wonokerto dan Siwalan yang lokasinya dekat pantai, dikenal sebagai penghasil ikan laut dan udang tambak. Sedang di daerah pegunungan atau daerah


Pekalongan Selatan selain hasil pertanian dan perkebunan, cengkih masih mendominasi di Paninggaran. Wilayah lainnya seperti Kecamatan Buaran, Kedungwuni, Wiradesa, Bojong, Tirto menjadi pusat industri dan perdagangan. Selain itu juga sebagai pusat kerajinan tenun, batik sutra, garmen dan sarung palekat yang pangsa pasarnya sudah menembus dunia. Sebab itu tak aneh bila sepanjang jalur Pantura yang masuk Kabupaten Pekalongan bermunculan pusat perbelanjaan atau pasar grosir yang menyediakan khusus batik, kerajianan tenun, garmen dan sarung palekat. Daerah Pegunungan seperti Kecamatan Lebakbarang memiliki produk unggulan gula aren, sapu glagah, anyaman bambu, dan kolang-kaling sampai saat ini sulit dipasarkan. Meskipun produk itu merupakan pekerjaan industri rumah tangga masyarakat setempat yang diandalkan untuk menopang biaya hidup sehari-hari, namun usaha pemasarannya masih sulit. Bahkan industri sapu glagah juga dikerjakan oleh warga Desa Botosari Kecamatan Paninggaran, yang merupakan tetangga Kecamatan Lebakbarang. Sulit Dipasarkan Sejumlah penduduk yang membuat sapu glagah mengaku selama ini sapu hasil produksinya sulit dipasarkan keluar daerah. Biasanya sapu hasil kerajinan tangan itu dijual di pasar lokal dengan harga satuan sekitar Rp 2.000. Padahal harga jual di pasar swalayan Pekalongan ada yang mencapai Rp 5.000. Sapu hasil kerajianan penduduk Botosari (Paninggaran) maupun Lebakbarang tidak berbeda dengan produksi warga Watukumpul (Pemalang). Hanya bedanya kerajinan sapu dari Lebakbaranng dan Paninggaran belum bisa mendapat pasar di luar daerah seperti sapu dari Watukumpul. ''Paling jauh sapu Botosari dikirim ke Solo, itu pun belum tentu sebulan sekali kirimnya,'' kata Wardi. Kurangnya promosi juga berdampak bagi petani salak pondoh, mlinjo, dan kopi yang merupakan produk unggulan Kecamatan Doro dan Talun. Padahal salak pondoh dari Kabupaten Pekalongan rasanya tidak kalah dengan salak pondoh dari Sleman. Hanya bedanya salak pondoh Sleman sudah lebih dahulu dikenal masyarakat. Hasil industri rumah tangga atau pertanian penduduk di daerah dataran tinggi memang selama ini tidak ada yang menonjol selain cengkih yang banyak dihasilkan Kecamatan Paninggaran, Lebakbarang dan daerah pegunungan lainnya. Hal inilah yang membuat iri para perajin gula aren, sapu glagah, anyaman bambu yang dikerjakan penduduk desa daerah pegunungan. Meskipun masalah perindustrian di Kabupaten Pekalongan selalu mendapat pembinaan dan pengawasan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diperindag) yang dipimpin oleh Drs HA Arif Sudradjat. Sarung Palekat Di bidang pertekstilan, Kabupaten Pekalongan ternyata masih tercatat sebagai produsen yang dikenal buyer-buyer dunia. Produk yang masih bisa bersaing di pasar mancanegara di antaranya sarung palekat, garmen (pakaian jadi), tekstil printing, batik, kerudung bordir, dan pengolahan kayu. Produk tekstil yang sudah bisa menjadi komoditas ekspor selain sarung palekat, juga celana jin dan pakaian wanita. Selain itu tekstil printing bermotif batik, juga banyak di minati masyarakat mancanegara. Disamping sumpit dari kayu pinus dan bambu banyak dikirim ke beberapa negara tetangga seperti Korea, Jepang, Taiwan dan negara-negara Mandarin lainya. Tekstil bermotif batik banyak diekspor ke Nigeria, Arab Saudi, Dubai, dan Singapura yang pada tahun lalu mencapai 158.204 kodi (1 Kodi = 20 Potong), dengan nilai 13.882.240,810 dolar Amerika . Sarung palekat yang dieksport ke Emirat Arab jumlahnya 34.990 kodi dengan nilai 2.834.922,870 dolar Amerika. Pakaian jadi (garmen) yang diekspor ke Amerika mencapai 42.728 PC bernilai 205.448,640 dolar Amerika dan nilai ekspor sumpit yang dikirim ke Taiwan mencapai 13.850 dolar Amerika. Selain itu produk benang teteron rayon (TR) dari Kabupaten Pekalongan juga diekspor ke Jepang. Demikian pula kerudung bordir, baju koko, sprei dan daster juga banyak digemari masyarakat Eropa yang dikirim melalui buyer-buyer di Bali.(Syam Dakrita-20
Musium Batik Pekalongan
Alun alun Kota Pekalongan
Hotel Green Mandarin Pekalongan